search

Memuat...

pengganti kartu kredit

Daftar ke PayPal dan mulai terima pembayaran kartu kredit secara instan.">

Sabtu, 03 Desember 2011

Manajemen Pakan Udang Vannamei di BBAP Situbondo (23-10-11)


5.1.      Pemeliharaan Larva
5.1.1.   Persiapan Bak Pemeliharaan Larva
            Di BBAP Situbondo bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva udang vannamei terbuat dari semen dilapisi cat berwarna biru muda, berbentuk persegi panjang dengan kemiringan 3% ke arah pembuangan, dan berkapasitas 10 ton.
Dalam kerjanya pembersihan bak dilakukan dengan cara membilas bak dengan menggunakan air tawar sampai bersih. Selanjutnya dilakukan pengeringan hingga hari berikutnya. Kemudian, diberi kaporit 60% sebanyak 100 ppm secara merata pada dinding dan bagian dasar bak dan dibiarkan selama 1 hari lalu dibilas lagi dengan sabun deterjen dan air tawar, setelah itu dilakukan pengeringan selama 2 hari. Proses pencucian bak dilakukan dengan menggunakan deterjen secukupnya dan dilarutkan dengan air tawar pada timba, kemudian dinding dan bagian dasar bak digosok-gosok menggunakan spon lalu dibilas kembali dengan air tawar hingga bersih. Hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, dkk (2006), yang menyatakan bahwa pencucian bak dilakukan dengan menggunakan kaporit 60% sebanyak 100 ppm yang dicampur dengan deterjen 5 ppm dan dilarutkan dengan air  tawar pada wadah atau ember kemudian dinding dan dasar bak digosok-gosok dengan menggunakan scoring pad dan dibilas dengan air tawar hingga bersih dan kemudian dilakukan pengeringan selama dua hari. Pencucian dan pengeringan bak ini bertujuan untuk menghilangkan dan mematikan mikroorganisme pembawa penyakit.



5.1.2.               Persiapan Air Media
            Pengisian air laut kedalam bak pemeliharaan larva dilakukan dengan menggunakan filter bag ukuran 10 µ, sebanyak 7 ton atau setengah dari kapasitas bak. Pengisian air laut dapat dilihat pada Gambar 5.
 





Gambar 5. Pengisian menggunakan filter bag
(Data Primer, 2011)

                        Air yang dimasukkan berasal dari laut yang disedot pompa air kedalam tandon hingga akhirnya disedot menuju  bak pemeliharaan larva. Setelah itu air di treatment dengan menggunakan EDTA 5 ppm, dan diaerasi kuat selama 24 jam agar larutan dapat tercampur rata dengan air media tersebut. Kemudian diendapkan selama 15 menit. Setelah itu air media dibuang sedikit untuk menghilangkan sisa endapan EDTA untuk dapat bisa digunakan selanjutnya. Persyaratan kualitas air yang dimasukkan sudah cukup baik, karena dalam persiapan air sebelumnya air laut telah di treatment dan juga melewati proses sinar UV selama ada di bak tendon.
            Untuk menjaga agar suhu air selalu baik, maka bak pemeliharaan ditutup dengan terpal biru. Fungsinya agar suhu air tetap berada di suhu normal dan kualitas air akan tetap baik.




5.1.3.   Penebaran Naupli Udang Vannamei
            Naupli yang ditebar berasal dari BBAP Situbondo itu sendiri. Penebaran naupli dilakukan pada pagi hari, hal ini dilakukan dengan harapan untuk menghindari fluktuasi suhu yang terlalu tinggi terhadap lingkungan.
            Padat tebar dalam bak pemeliharaan larva sebanyak 167 ekor/liter, dengan populasi mencapai 1.170.000 ekor/bak 10 ton dengan stadia tebar Naupli (N) untuk 7 ton volume air. Padat tebar yang dilakukan oleh BBAP Situbondo tersebut berbeda dengan Better Management Practices (BMP) Manual for Black Tiger Shrimp (Penaeus monodon) Hatcheries (2005), yang menyatakan bahwa padat tebar naupli sekitar 100 - 150 ekor/liter dalam air media pemeliharaan sekitar 50 - 75 % dari volume bak.
            Sebelum ditebar naupli yang masih berada dalam ember diaklimatisasi terlebih dahulu pada bak pemeliharaan larva selama ± 15 menit. Aklimatisasi terhadap suhu dan salinitas perlu dilakukan sebelum naupli ditebar ke dalam bak pemeliharaan larva agar naupli tidak mengalami stres.
            Setelah dilakukan penebaran aerasi harus diatur, jangan sampai aerasi dalam bak terlalu besar dan terlalu kecil sehingga dapat menyebabkan stres pada nauplius. Kualitas air media di BBAP Situbondo cukup baik, dengan suhu 31 - 320C, salinitas 32 ppm, dan pH sebesar 7,5. Sehingga naupli udang vannamei dapat beradaptasi dan tumbuh dengan baik.

5.2.      Manajemen Pakan Larva Udang Vannamei
Jenis pakan yang diberikan pada larva udang vannamei terdiri dari pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang digunakan adalah Skeletonema dan Artemia. Sedangkan untuk pakan buatan menggunakan beberapa merek seperti Rotemia, Rotofier, dan Brine Shrimp Flakes. Hal ini sesuai pendapat Wardiningsih (1999), yang menyatakan bahwa, secara umum pakan yang diberikan pada larva udang vannamei selama proses pemeliharaan ada dua jenis yaitu pakan alami (phytoplankton dan zooplankton) dan pakan komersil (buatan). Frekuensi pemberian pakan diberikan 8 kali sehari. Dosis pemberian pakan alami dan buatan pada larva udang vannamei disesuaikan dengan stadia larva.
5.2.1.   Pakan Alami
            Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam. Berikut pakan alami yang digunakan di BBAP Situbondo:
A.        Skeletonema costatum

            Skeletonema costatum merupakan salah satu jenis phytoplankton dari kelompok diatom. Skeletonema ini digunakan sebagai pakan alami bagi larva udang vannamei dari naupli3-mysis3. BBAP Situbondo dalam pengadaan pakan alami ini tidak dengan kultur sendiri, melainkan BBAP Situbondo membelinya secara langsung dari PT Summa Benur sebanya 7 kantong. 1 kantong berisi 5 liter, seharga 10.000/kantong.
Gambar 6. Skeletonema c pada tempat penampungan
(Data primer, 2011)
            Dosis yang diberikan sebanyak 10 liter setiap 1 pemberian pakan. Frekuensi pemberian hanya 2 kali dalam sehari, pada pukul (07.00) pagi dan (15.00) sore hari. Penebarannya dengan mengambil skeletonema di bak penampungan sebanyak 10 liter keadaan timba, selanjutnya dilakukan pemberian secara merata kebak larva.
B.     Artemia salina
1.      Proses Dekapsulasi dan Kultur Artemia
a)  Proses Dekapsulasi Artemia, dekapsulasi dapat diartikan sebagai proses penipisan/pembersihan cangkang. Proses ini biasanya dilakukan untuk menipiskan cangkang pada artemia, agar nauplius artemia dapat keluar dengan mudah.
1)    Ambil 1 kaleng cyste artemia lalu dibuka dan dituang ke dalam timba berukuran 10 liter, rendam cyste artemia dengan air tawar ±7 liter selama 15 menit.
2)    Selanjutnya, tiriskan cyste artemia dengan saringan 100 µ. Kembalikan lagi cyste artemia kedalam timba berukuran 10 liter, lalu beri chlorine sebanyak 1 liter. Fungsi dari chlorine adalah melarutkan senyawa lipoprotein pada cangkang telur artemia yang banyak mengandung heamatin sehingga mempercepat pengikisan cangkang telur artemia.
3)    Aduk dengan tekanan yang kuat tujuannya untuk menghomogenkan larutan chlorine dalam proses dekapsulasi, selama ± 5 menit.
4)    Setelah dekapsulasi cyste artemia, saring kembali dengan memakai saringan 100 µ, lalu dibilas hingga bersih dengan air tawar sampai bau chlorine benar-benar hilang. Proses pengadukan diulang 3-4 kali dengan chlorine yang diakhiri dengan perubahan warna dari warna awal (coklat keputihan) menjadi warna orange atau merah bata. Selama proses dekapsulasi diusahakan suhu tidak lebih dari 40ºC karena dapat menyebabkan artemia terbakar dan mati.
5)    Kemudian dibungkus dengan plastik yang dibagi menjadi 15 bagian, masing-masing sebanyak 80 grm. Proses dekapsulasi Artemia sp dapat dilihat pada Lampiran 3.
b)  Proses Kultur Artemia, kultur dapat diartikan sebagai proses membudidayakan mahluk hidup dari ukuran kecil sampai ukuran yang diharapkan.
1)    Dalam setiap proses pengkulturan hanya membutuhkan satu bagian saja dan sisanya dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Kultur dilakukan setiap hari pada pagi hari untuk memasok naupli artemia pada keesokan harinya.
2)    Tempat kultur atau menetaskan cyste artemia menggunakan timba bervolume 10 liter, kemudian diisi air laut yang telah steril sebanyak 7 liter dan diberi aerasi. Selanjutnya, sekitar 12-24 jam cyste artemia akan menetas menjadi nauplius artemia.
         Keuntungan dari dekapsulasi artemia adalah:
1.    Membunuh bakteri dan jamur yang terdapat pada cyste melalui pemberian chlorine.
2.    Mengurangi kotoran cangkang setelah penetasan karena adanya penipisan pada cangkang.
3.   
Lebih cepat menetas karena nauplius artemia mudah merobek cangkang yang tipis, sehingga tingkat penetasan tinggi.
Gambar 7. Kultur artemia dan artemia dalam kemasan
(Data primer, 2011)

2.      Pemberian Nauplius artemia
         Nauplius artemia merupakan pakan alami jenis zooplankton yang diberikan pada larva udang mulai dari stadia post larva 1. Pemberian nauplius artemia dikarenakan banyak mengandung nilai nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh larva dan merupakan zooplankton yang bergerak aktif sehingga dapat merangsang serta meningkatkan nafsu makan larva udang.
a.      Dosis Pemberian    
dosis pemberian pakan alami dilakukan pada stadia PL1-PL9 dengan 100 - 200 ekor/hari. Dosis pemberian pakan alami dapat dilihat pada Tabel 7.







Tabel 7. Dosis Pemberian Pakan Alami
Stadia
Skeletonema c
(sel/ml/hari)
Nauplius artemia
(ekor/hari)
Keterangan
Naupli3-4


Pemberian Skeletonema c dan nauplius artemia dilakukan pada pukul 07.00 atau 15.00

Naupli5-6
Min.600

Zoea1
Min.600

Zoea2
Min. 600

Zoea3
Min. 600

Mysis1
Min.600

Mysis2
Min.600

Mysis3
Min.600

PL1 – PL9

100 - 200
Sumber : BBAP Situbondo (2011)
Kandungan nutrisi naupli artemia dapat dilihat padda Tabel 8.
Tabel 8. Kandungan Nutrisi Naupli Artemia
No.
Kandungan Nutrisi
Komposisi (%)
1.
Protein
40 - 60
2.
Karbohidrat
15 - 20
3.
Lemak
15 - 20
4.
Air
1 - 10
5.
Abu
3 -  4
Sumber : BBAP Situbondo (2011)
b.      Frekuensi dan Waktu Pemberian
         Frekuensi pemberian nauplius Artemia sama dengan Skeletonema c yaitu hanya dua kali dalam sehari, pagi (07.00) dan sore hari (15.00).
c.      Cara Pemberian
         Pemanenan dilakukan setelah cyste menetas dengan cara mematikan aerasi dan biarkan selama 5 - 10 menit agar sisa cangkang artemia yang tidak menetas mengendap di dasar, nauplius artemia disaring dengan menggunakan saringan 100 µ dan dimasukkan kedalam timba, kemudian dicuci dengan air laut. Nauplius artemia diberikan dengan cara ditebar secara merata ke seluruh bagian bak pemeliharaan.
5.2.2.   Pakan Buatan
1.         Jenis Pakan Buatan
            Pakan buatan merupakan pakan yang diberikan pada larva udang selama proses pemeliharaan selain pakan alami. Pakan buatan berperan sebagai pakan tambahan dan untuk menjaga agar tidak sampai terjadi under feeding. Hal ini sependapat Sumeru dan Anna (1992), yang menyatakan bahwa pakan buatan merupakan alternatif yang penyediaannya secara continue atau berlanjut memungkinkan dapat digunakan sebagai pengganti atau pelengkap makanan hidup.               
            Di BBAP Situbondo pakan buatan diperoleh atau didapat dengan tidak memilih bahan dan meramu pakan secara manual atau dibuat sendiri melainkan diperoleh dengan membeli langsung dari produsen pembuat pakan buatan atau pabrik dalam bentuk powder dan cair. Pakan buatan yang digunakan bermerek Rotemia yang memiliki komposisi atau kandungan nilai gizi dan nutrisi yang tinggi yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan larva udang. Untuk lebih jelasnya mengenai komposisi pakan buatan dapat dilihat pada Tabel 9.






Tabel 9. Komposisi Pakan Buatan
No
Nama Pakan Buatan
Stadia

Ukuran Pakan
Komposisi

1

RotemiaTM


N
Mysis3

300 meshes (20 - 50 µm)

Protein min 52%, lipid 16 %, Fiber max 7 %, moisture 8 %, Ash max 6,5 %

2

Rotofier

Z
PL5

150 - 200 meshes (50 - 100 µm)

Protein min 50%, moisture max 8%, Fiber max 6%, lipid 16%, Ash max 6,5%

3

Brine Shrimp Flakes

Z
PL10

Mesh (75 - 150 µ)

Protein min 48%, lipid 12%, Fiber max 3%, moisture 8%, Ash max 10%
Sumber : BBAP Situbondo (2011)
            Untuk lebih jelasnya mengenai macam pakan buatan dapat dilihat pada Gambar 8.
 





Gambar 8. Pakan Buatan
( Data Primer, 2011)

2.      Pemberian Pakan Buatan
         Pakan buatan berperan sebagai pakan tambahan yang ketersediannya secara continue yang memungkinkan dapat digunakan sebagai pengganti atau pelengkap dari pakan alami. Oleh karena itu, sirkulasi atau ketersediaan pakan alami tidak selalu ada setiap saat yang mana harus melalui proses pengkulturan terlebih dahulu. Sedangkan pakan buatan ketersediannya selalu ada karena dibuat oleh mesin atau pabrik dalam bentuk powder atau cair dengan kandungan nutrisi dan nilai gizi yang tinggi serta lengkap, sehingga dapat dijadikan pengganti atau tambahan pakan sewaktu pakan alami tidak tersedia.
a.      Dosis, Frekuensi, dan Waktu Pemberian
         Dosis pemberian pakan buatan tergantung dari tingkatan stadia larva, pakan buatan mulai diberikan saat stadia zoea1 sampai post larva. Semakin tinggi tingkat stadia larva maka pemberian pakan buatan semakin meningkat dikarenakan sifat dari udang vannamei yang pemakan lambat dan terus-menerus, jika ketersediaan pakan tersebut habis maka sifat kanibalisme udang muncul yang berdampak pada Survival Rate (SR).
         Frekuensi pemberian pakan buatan di BBAP Situbondo 6 kali/hari dengan selang waktu 4 jam. Pemberian pakan buatan setiap 4 jam sekali karena untuk memperkirakan kondisi larva itu lapar dan menghindari endapan-endapan dari sisa pakan sebelumnya. Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Buatan dapat dilihat pada Tabel 10.












Tabel 10. Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Buatan
Stadia
Dosis (grm)
Jenis dan Waktu Pemberian Pakan
05.00
09.00
13.00
17.00
21.00
01.00
N2Z2
4
RT
-
-
RT
RT
RT
Z2 Z3
6
RT
RT
RT
RT
RT
RT
Z3 M1
7
RT
RT
RT
RT
RT
RT
M1 – M2
8
RT
RT
RT
RT
RT
RT
M2 – M3
9
RT
RT
RT
RT
RT
RT
M3 – PL5
10
RF-BSF
RF-BSF
RF-BSF
RF-BSF
RF-BSF
RF-BSF
Sumber : BBAP Situbondo (2011)
Keterangan:   
RT    : Rotemia (pakan buatan)
RF    : Rotofier (pakan buatan)
BSF  : Brine Shrimp Flakes (pakan buatan)

 b.    Cara Pemberian
         Di BBAP Situbondo, pakan buatan terdiri dari dua macam bentuk yaitu dalam bentuk powder (Rotemia, Rotofier, dan Brine Shrimp Flakes) dan cair. Kedua macam bentuk pakan buatan tersebut dalam pemberiannya terlebih dahulu dilarutkan dengan air tawar. Misalnya, pada stadia zoea2 pada pukul 13.00 diberikan pakan buatan Rotemia (powder), pada pemeliharaan larva terdapat 1 bak yaitu: E1, padat tebar 1.170.000. Jadi, timbang pakan buatan Rotemia dengan dosis 6 gram dan hari berikutnya menambah menjadi 7 gram, sampai larva siap panen. Lain halnya dengan pakan buatan jenis Rotofier dan Brine Shrimp Flakes, ke dua pakan tersebut dicampur dengan perbandingan 1:1, masing-masing 3 grm. Sebanyak 6 grm Rotemia dimasukkan ke dalam timba lalu disaring dengan saringan 100 µ dan dilarutkan dengan air tawar ± 10 liter kemudian diaduk agar tidak terjadi endapan dan pakan buatan yang telah tercampur dengan air tawar, pemberian dilakukan dengan cara menyebarkannya secara merata ke seluruh permukaan air pada bak pemeliharaan. Pencampuran pakan buatan dengan air tawar dan cara penyebaran pakan secara merata dapat di lihat pada Gambar 9 dan 10.




Gambar 9 dan 10. Pencampuran dan Penyebaran Pakan Buatan
( Data Primer, 2011)

         Pemberian pakan yang dilakukan sudah sangat efektif. Hal ini terlihat dari setiap perkembangan stadia yang sehat dan terus berkembang bagi pertubuhan larva.

5.3.      Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air pada pemeliharaan larva udang vannamei dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : penyiponan (dilakukan pada pagi hari saat pertumbuhan larva mencapai stadia mysis1) dan ganti air (dilakukan pada pagi hari setelah larva mencapai stadia mysis2) dengan menurunkan air sebanyak 4 ton dari volume awal air 7 ton dan diiringi pengisian air kembali sebanyak volume awal air. Monitoring kualitas air dilakukan setiap hari. Monitoring yang dilakukan hanya pengamatan suhu saja, sedangkan yang lainnya seperti DO, salinitas, dan pH, tidak dilakukan.
Pengukuran suhu air pemeliharaan larva udang vannamei di BBAP Situbondo dilakukan dengan menggunakan termometer. Termometer diikat dalam media pemeliharaan agar perubahan suhu yang terjadi dapat diamati. Pengukuran suhu dilakukan pada pagi dan sore hari. Suhu pada pemeliharaan larva udang vannamei berkisar 31 - 32 0C, hal ini sesuai dengan pendapat Haliman dan Adijaya, (2005) yang menyatakan bahwa suhu optimal pertumbuhan udang antara 26 - 32 0C.

5.4.   Pengendalian Penyakit
         Pada pemeliharaan larva udang vannamei BBAP Situbondo, tidak ditemukan penyakit Karena telah dilakukannya tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan dilakukan dengan cara mensterilisasi peralatan, pengeringan bak, melakukan treatment air, baik treatment air tandon maupun treatment air media pemeliharaan larva.
         Treatment air tandon hanya menggunakan sinar UV, sedangkan treatment air media pada bak pemeliharaan menggunakan EDTA 5 ppm.

5.5.      Monitoring Pertumbuhan
Monitoring pertumbuhan di BBAP SItubondo dilakukan sejak penebaran nauplius. Setiap hari larva udang dikontrol dengan rutin. Monitoring ini bertujuan untuk :
  1. Mengetahui sejauh mana pertumbuhan larva.
  2. mengetahui stadia mana pertumbuhan larva.
  3. Mengetahui perkembangan udang selama moulting.
  4. Memprediksi hasil panen.
Monitoring ini dilakukan dengan mengambil sampel dari beberapa titik, namun yang sering diambil yaitu titik pojok bak karena larva udang akan cenderung mengumpul di daerah pojok. Pengembilan sampel ini menggunakan beaker glass. Selanjutnya diamati, pengamatan ini umumnya dilakukan oleh teknisi.
a.           Larva memasuki stadia zoea, ditandai dengan adanya kotoran yang selalu menggantung seperti ekor, ini berlangsung selama 4 hari.
b.           Larva memasuki stadia mysis, apabila cara berenangnya ke belakang dan sedikit bengkok. Fase ini berlangsung selama 3 hari.
c.           Larva memasuki stadia PL, apabila sudah tampak seperti udang dewasa yaitu larva sudah berenang dengan normal dan bentuk tubuh serta alat pencernaanya sudah sempurna.
Larva udang vannamei ini jika diamati dengan beaker glass pada stadia zoea-mysis akan melayang-layang di air bila pada stadia PL larva akan terlihat aktif bergerak, PL yang pertumbuhannya lebih rendah daripada yang lainnya atau mempunyai bentuk badan yang lebih kurus dari yang lain akan berada di permukaan gelas beaker. Dari monitoring tersebut didapatkan hasil dari pertumbuhan larva cukup baik, karena perkembangan pertumbuhan larva setiap stadia stabil.
Dalam satu siklus produksi pertumbuhan larva belum tentu sama. Dalam arti pertumbuhannya tidak sama atau tidak seragam, sebagai contoh larva dalam bak yang seharusnya sudah memasuki masa PL tetapi pada pengamatan masih ada yang masih stadia mysis. Hal ini disebabkan karena kemampuan moulting setiap larva itu berbeda.





5.6.   Pemanenan
         Pemanenan larva udang vannamei biasanya dilakukan saat stadia minimal post larva9 (PL9) dengan ciri-ciri uropoda telah terbuka semua atau benur yang sudah siap di tebar di tambak. Namun, hal tersebut dapat berubah sesuai dengan permintaan pembeli atau konsumen.
a.      Cara Panen
         Terlebih dahulu air dalam bak pemeliharaan larva diturunkan hingga 50% (volume bak 10 ton terisi air sebanyak 7 ton diturunkan menjadi 3 ton) melalui pipa goyang atau pipa pengeluaran dan pipa saringan bagian dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat Murtidjo (2003), yang menyatakan bahwa salah satu tahapan pemanenan adalah dengan menurunkan air dalam bak pemeliharaan secara perlahan-lahan dengan penyiponan sampai tertinggal setengahnya. Air yang keluar ditampung dengan menggunakan ember bersaring dengan ukuran saringan 300 µ. Benur diseser dan ditampung dalam baskom bersaring. Setelah jumlah benur dalam bak berkurang, pipa saringan bagian dalam dilepaskan untuk dilakukan panen total. Selanjutnya disaring kembali dengan saringan rangka besi ukuran 50 x 70 cm.
         Air dialirkan melalui saringan saluran pembuangan dan ditampung dalam ember bersaring. Setelah pemanenan selesai, dilakukan sampling kepadatan benur dengan menggunakan takaran yang telah diperhitungkan dari setiap sampling tersebut. Misalnya, dilakukan sampling dengan menggunakan skopnet dengan jumlah benur sebanyak 2.500 ekor/skopnet.
b.      Pengemasan
         Benur yang telah dipanen dan ditakar dituang dalam kantong plastik yang telah diisi air laut sebanyak 4 liter. Kemudian diberi oksigen (O2) dengan perbandingan air laut dan O2 1:1,5 atau sesuai dengan kepadatan dan jarak pengiriman, lalu ikat dengan karet gelang.

5.7.   Produksi dan Pemasaran
         BBAP Situbondo memproduksi atau menghasilkan larva sebanyak 300.000 ekor larva, dengan tingkat kelulushidupan larva (SR) 25,6% dari jumlah tebar 1.170.000 ekor. Benur siap tebar pada tambak hasil pemeliharaan larva BBAP Situbondo yang akan dipasarkan untuk tambak milik sendiri dan sebagai sampel dalam laboratorium biotek.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar